![]() |
| Masjid di Ranu Pane (foto : pedomannusantara) |
Orang islam
bikin mushola itu biasa, tapi bagaimana orang Hindu yang bikin mushola ?.
rasanya memang agak aneh tapi kisah ini memang benar benar terjadi di desa Ranu
Pani atau Ranu Pane, sebuah desa nan indah di kaki gunung Semeru (3.767 mdpl),
gunung tertinggi di tanah Jawa. Ranu Pane adalah desa perhentian terahir bagi
para pendaki yang hendak menuju puncak semeru atau biasa disebut Mahameru di
wilayah kabupaten Lumajang dan Kabupaten Malang.
Ranu Pane
begitu popular di kalangan para pendaki gunung, sebuah desa kecil yang teramat
indah dengan dua danaunya yang menawan ::: danau Ranu Pane dan danau Ranu
Regolo::: awalnya seluruh penduduknya beragama Hindu. Islam menyentuh wilayah
ini dari para pendaki yang datang dari berbagai penjuru tanah air. Salah satu
dari pendaki itu menuliskan pengalamannya berkenalan dengan warga Ranu Pane
yang pertama kali masuk Islam dengan kisah nya yang luar bisa, saya nukilkan
untuk anda berikut ini.
View Masjid Desa Ranu Pane in a larger map
Hingga
datanglah tahun 1972. Pak Kasimin, yang waktu itu masih beragama Hindu, berniat
membangun musholla. Tentu saja niatnya ini banyak menuai penentangan. Bahkan,
sekelompok orang berniat mengeroyoknya. Tapi Pak Kasimin tidak putus asa. Dia
pun menemui Camat Senduro (bernama Heru Purnomo) untuk minta surat ijin
pendirian mushalla. Untuk keperluan itu, dia harus berjalan kaki mendaki bukit
meneruni lembah dari jam 5 pagi (berangkat) hingga jam 4 sore (kembali pulang)!
Di kantor
camat, Pak Kasimin mendapat pertanyaan berat. “Pak Kasimin ini agamanya apa?”,
begitu tanya Sang camat. “Hindu, Pak”, jawabnya. “Lha kalau Pak Kasimin
beragama hindu, untuk apa membangun mushalla?!” tandas Sang camat. Tapi, Pak
Kasimin sudah menyiapkan alasan. Dia bilang, banyak temannya dari manca desa
(mungkin yang dimaksud adalah para pendaki semeru) yang beragama Islam, yang
sewaktu-waktu bisa datang ke Ranu Pani.
![]() |
Pak kasimin
(foto : nadhiv)
|
Singkat
cerita, surat ijin pun akhirnya bisa dikantongi Pak Kasimin. Mushalla pun siap
didirikan. Ada yang mengharukan (sangat-sangat mengharukan!) saat Pak Camat di
kemudian hari datang ke Ranu Pani untuk menyaksikan dimulainya pembangunan
mushalla. Di hadapan warga desa, Pak Camat bertanya kepada Pak Kasimin.
“Pak Kasimin, setelah mushalla ini nanti berdiri, apa yang akan Pak Kasimin lakukan?” dengan mantap, Pak Kasimin menjawab, “Masuk islam, Pak!”.
Jawaban Pak
Kasimin itu disambut tepuk riuh para penduduk desa. Dan subhaanallah, setelah
mushalla benar-benar berdiri (yang ukurannya cuma 3×3 meter), tidak hanya Pak
Kasimin yang masuk Islam tetapi juga seluruh warga desa, tanpa terkecuali,
termasuk mereka yang tadinya hendak mengeroyok pak kasimin atas niatnya
mendirikan mushalla. Allaahu akbar!
Mushalla
mungil itu tentu saja tidak cukup untuk dipakai jumatan. Maka pada tahun 1982,
dengan bantuan dana sebesar 3 juta rupiah dari Mantri Kentang, Mantri kentang
ini bernama Pak Syamsi, beliau adalah [menurut Pak Kasimin] kakak kandung Adnan
Buyung Nasution. Tahun 1983, Bupati Lumajang menghibahkan dana sebesar 10 juta
rupiah untuk pemugaran masjid. Warga desa juga berhasil mengumpulkan uang
sebanyak 3 juta rupiah sebagai tambahan. Kini, masjid itu telah kokoh berdiri
di Ranu Pane. ******
![]() |
Ini dia danau Ranu Pane (foto : yangpentingnyoba)
|
Sumber
nadhiv.wordpress.com
- sehari-di-ranu-pani
pedomannusantara.com
- pesan-toleransi-dari-lereng-gunung-semeru



Tidak ada komentar :
Posting Komentar