Nyidam Sari

Jumat, 13 Desember 2013

Kisah Mualaf Ranu Pane

Bikin Mushola, Lalu Masuk Islam
Masjid di Ranu Pane (foto : pedomannusantara)

Orang islam bikin mushola itu biasa, tapi bagaimana orang Hindu yang bikin mushola ?. rasanya memang agak aneh tapi kisah ini memang benar benar terjadi di desa Ranu Pani atau Ranu Pane, sebuah desa nan indah di kaki gunung Semeru (3.767 mdpl), gunung tertinggi di tanah Jawa. Ranu Pane adalah desa perhentian terahir bagi para pendaki yang hendak menuju puncak semeru atau biasa disebut Mahameru di wilayah kabupaten Lumajang dan Kabupaten Malang.
Ranu Pane begitu popular di kalangan para pendaki gunung, sebuah desa kecil yang teramat indah dengan dua danaunya yang menawan ::: danau Ranu Pane dan danau Ranu Regolo::: awalnya seluruh penduduknya beragama Hindu. Islam menyentuh wilayah ini dari para pendaki yang datang dari berbagai penjuru tanah air. Salah satu dari pendaki itu menuliskan pengalamannya berkenalan dengan warga Ranu Pane yang pertama kali masuk Islam dengan kisah nya yang luar bisa, saya nukilkan untuk anda berikut ini.

View Masjid Desa Ranu Pane in a larger map

Hingga datanglah tahun 1972. Pak Kasimin, yang waktu itu masih beragama Hindu, berniat membangun musholla. Tentu saja niatnya ini banyak menuai penentangan. Bahkan, sekelompok orang berniat mengeroyoknya. Tapi Pak Kasimin tidak putus asa. Dia pun menemui Camat Senduro (bernama Heru Purnomo) untuk minta surat ijin pendirian mushalla. Untuk keperluan itu, dia harus berjalan kaki mendaki bukit meneruni lembah dari jam 5 pagi (berangkat) hingga jam 4 sore (kembali pulang)!
Di kantor camat, Pak Kasimin mendapat pertanyaan berat. “Pak Kasimin ini agamanya apa?”, begitu tanya Sang camat. “Hindu, Pak”, jawabnya. “Lha kalau Pak Kasimin beragama hindu, untuk apa membangun mushalla?!” tandas Sang camat. Tapi, Pak Kasimin sudah menyiapkan alasan. Dia bilang, banyak temannya dari manca desa (mungkin yang dimaksud adalah para pendaki semeru) yang beragama Islam, yang sewaktu-waktu bisa datang ke Ranu Pani.
Pak kasimin (foto : nadhiv)
Singkat cerita, surat ijin pun akhirnya bisa dikantongi Pak Kasimin. Mushalla pun siap didirikan. Ada yang mengharukan (sangat-sangat mengharukan!) saat Pak Camat di kemudian hari datang ke Ranu Pani untuk menyaksikan dimulainya pembangunan mushalla. Di hadapan warga desa, Pak Camat bertanya kepada Pak Kasimin.
“Pak Kasimin, setelah mushalla ini nanti berdiri, apa yang akan Pak Kasimin lakukan?” dengan mantap, Pak Kasimin menjawab, “Masuk islam, Pak!”.
Jawaban Pak Kasimin itu disambut tepuk riuh para penduduk desa. Dan subhaanallah, setelah mushalla benar-benar berdiri (yang ukurannya cuma 3×3 meter), tidak hanya Pak Kasimin yang masuk Islam tetapi juga seluruh warga desa, tanpa terkecuali, termasuk mereka yang tadinya hendak mengeroyok pak kasimin atas niatnya mendirikan mushalla. Allaahu akbar!
Mushalla mungil itu tentu saja tidak cukup untuk dipakai jumatan. Maka pada tahun 1982, dengan bantuan dana sebesar 3 juta rupiah dari Mantri Kentang, Mantri kentang ini bernama Pak Syamsi, beliau adalah [menurut Pak Kasimin] kakak kandung Adnan Buyung Nasution. Tahun 1983, Bupati Lumajang menghibahkan dana sebesar 10 juta rupiah untuk pemugaran masjid. Warga desa juga berhasil mengumpulkan uang sebanyak 3 juta rupiah sebagai tambahan. Kini, masjid itu telah kokoh berdiri di Ranu Pane. ******

Ini dia danau Ranu Pane (foto : yangpentingnyoba)
Memang hidayah datangnya tak disangka sangka dengan cara yang tak terduga duga. Saat ini, mayoritas penduduk Ranu Pani yang merupakan suku Tengger mayoritas penduduk memeluk agama Islam. Selain agama Islam masyarakat desa Ranu Pani juga masih memeluk agama Hindu Tengger dan agama Kristen. Menurut Thomas (45 tahun) kepala desa Ranu Pani bahwa penduduk di desanya berjumalah 1290 jiwa dengan pemeluk agama islam sebesar 250 kepala keluarga, pemeluk Hindu Tengger 100 kepala keluarga dan pemeluk kristen sejumlah 7 kepala keluarga. 


Sumber
nadhiv.wordpress.com - sehari-di-ranu-pani
pedomannusantara.com - pesan-toleransi-dari-lereng-gunung-semeru

Selasa, 19 November 2013

MAKNA LAGU SLUKU SLUKU BATHOK


Poro sedherek, masih ingatkah kita dhuk jaman semono, dengan lagu dolanan yang berjudul "SLUKU-SLUKU BATHOK" ?. Nah taukah mas-mas, n bro-bro (Mas Bro) ternyata didalam lagu tersebut terkandung makna dzikir yang sangat dalam, dan bukan sekedar lagu dolanan yang tanpa makna.
Dibawah ini penjelasan makna dari lagu tersebut ( hasil Copas )
Semua kalimat asalnya berbahasa Arab, dan isinya semua tentang nasehat untuk banyak mengingat Allah dan kematian. Begini urutannya:

  1. Sluku-sluku bathok, bathoke ela-elo (sluku-sluku bathok, bathoknya geleng-geleng-red), berasal dari kata “Usluk fa usluka bathnaka, bathnaka ila Allah” (masuk masuklah bathinmu , bathinmu kepada Tuhan), atau bathinmu harus lailaha illallah. ADa juga yang berpendapat, itu dari kata “Ghuslu Ghuslu Bathnaka…” (sucikanlah batinmu) . Entah mana yang benar, yang jelas, kita juga tahu saat seseorang berdzikir Laa ilaa ha illallah, kepalanya akan bergeleng2 ke kiri ke kanan, persis seperti bathok kelapa yang ela-elo (geleng-geleng). Oya, bathok adalah tempurung kelapa, yang secara filosofi dan bentuknya seperti kepala manusia

  2. Sirama menyang sala (bapak pergi ke sala), dari kata Sharimi Yasluka (petik dan ambillah satu jalan masuk) *Tentunya yang dimaksud adalah jalan kebahagiaan dan keselamatan, melalui beragama secara benar, berIslam secara benar.

  3. Oleh-olehe payung mutha (oleh-olehnya payung mutha), dari kata “Laailaha illaallah hayun wal mauta”, artinya meng-Esakan Allah dari hidup sampai maut. * Payung mutha adalah payung jadul dari kertas semen yang sangat besar, biasanya untuk mengiringi keranda jenazah.

  4. Mak jenthit lolobah, dari kata “mandzalik muqarabah“, artinya maka siapa yang dekat (pada Allah). Mak jenthit juga menunjukkan bahwa nyawa manusia itu singkat, gampang saja putus jika Allah berkehendak.

  5. Wong mati ora obah (jasad yang sudah meninggal tidak dapat bergerak), dari kata “hayun wal mauta innalillah”, artinya dari hidup hingga mati adalah milik Allah.

  6. Yen obah medeni bocah (kalau dia bergerak akan membuat takut anak-anak), dari kata “mahabbatan mahrajuhu taubah”, artinya kecintaan yang menuju pada taubat

  7. Yen urip goleka dhuwit (tapi kalau dia masih hidup, cari uanglah), dari kata “yasrifu innal khalaqna insana min dhafiq” artinya sesungguhnya manusia diciptakan dari air yang memancar. Mungkin yang bait ke tujuh ini ringkasan dari surah At Tariq ayat 6 - 7, Falyandhuri insanu mima khuliqa, khuliqa min maa’in daafiqin (Maka perhatikan manusia dari apa ia diciptakan, ia diciptakan dari air yang memancar).
Jadi ingat jaman dulu, setiap padhang mbulan  nggondang ........... tembang itulah yang kadang-kadang kita  nyanyikan, namun makna lagu itu justru baru saya ketahui setelah bertahun-tahun dan bahkan sudah tak pernah terdengar lagi.

(dari berbagai sumber)

Minggu, 10 November 2013

RESEP MEMBUAT PEYEK YANG GURIH & RENYAH


 Rempeyekatau yang sering disebut peyekmerupakan salah satu jenis panganan khas Indonesia yang berasal dari Yogyakarta. Rempeyekatau peyekmempunyai bahan dasar utama berupa tepung terigu, air, dan bumbu-bumbu lainnya yang diaduk dalam satu adonan yang kemudian diberi kacang tanah goreng, ikan teri, atau udang kecil. Rempeyekatau peyek ini sendiri dihidangkan sebagai makanan tambahan pengganti kerupuk atau emping goreng. Disini akan dibahas mengenai resep dan caramembuat rempeyek kacang tanah gurih khas Jogja.

Bahan-bahan:

1. 350 gr tepung terigu/tepung beras.
2. 250 gr kacang tanah.
3. 300 ml santan kelapa.
4. Air matang secukupnya.
5. Minyak goreng.

Bahan-bahan yang dihaluskan : 

1. 2. 4 siung bawang putih.
2.. 3 cm kencur.
3. 3 btr kemiri
4. 6. 1 sdm ketumbar.
5. daun jeruk
6. 1 sdt garam.

Cara membuat :
  1. Mula-mula blender sampai halus semua bumbu-bumbu yang dihaluskan.
  2. Kemudian ambil wadah lalu masukkan tepung terigu, santan kelapa, kacang tanah, 
    dan air matang secukupnya, lalu aduk secara  merata. 
    Selanjutnya, masukkan bumbu yang sudah dibleder tadi lalu duk kembali sampai merata.
  3. Setelah itu siapkan wajan dan panaskan minyak goreng. Ambil adonan tepung tadi menggunakan centong nasi lalu masukkan adonan rempeyek sampai setengan matang
  4. Panaskan kembali minyak dengan wajan yg lain dengan ukuran yang besar dan minyak yang banyak, goreng rempeyek yang setengah matang tadi sampai berwarna kecokelatan. Angkat, tiriskan.
  5. Simpan di dalam wadah kedap udara.
    
Catatan :
 Rempeyek harus dibuat setengah matang terlebih dahulu, diangkat, lalu digoreng kembali sampai berwarna kuning kecokelatan supaya renyah.

 Silahkan dicoba cara membuat rempeyek kacang tanah gurih, semoga bermanfaat untuk anda semua.

Jumat, 08 November 2013

Fotoku

                                                              Bersama kakak

Rabu, 06 November 2013

Trio Peyek


Agan agan yang hoby dengan makanan yang satu ini kami menyediakan berbagai macam peyek, diantaranya Peyek kacang tanah, Peyek kacang ijo, Peyek Teri, dan Peyek Udang Rebon,
Kalo agan-agan semua sekali mencoba dijamin pasti ketagihan, karena cita rasanya yang Gurih & renyah.......dan yang pasti Higienis karena dikemas dalam plastik yg di Press.
Tapi saat ini baru beredar disekitar lingkungan aja, yah maklum karena baru belajar.
Yang tinggal di Komplek Pondok Ungu Permai silahkan ke TKP,
Alamat Kami :

PERUM PONDOK UNGU PERMAI BLOK AL 20 NO.4

  Yang Mau pesen silahkan Call  081546256955Harga Perkantong  Rp. 3.000,-  isi 4 buah..................terjangkau kaann.....?


Cekidot Gaaaaannnn........................!
                                           Contoh Kemasan


Bromo

Perjalanan Wisata di Gunung Bromo

Selasa, 05 November 2013

Buto Cakil

 Hasil Copas  dari Paguyuban Pecinta Wayang :
Cakil merupakan tokoh asli kreativitas Indonesia. Cakil bukanlah nama, melainkan sebutan untuk raksasa yang berwajah dengan gigi taring panjang di bibir bawah hingga melewati bibir atas tersebut. Ia bisa diberi nama apa saja oleh Dalang yang memainkannya, kadang bernama Ditya Gendirpenjalin, kadang juga bernama Gendringcaluring, Klanthangmimis, Kalapraceka, dan bahkan saya pernah menjumpai dalang menamainya Ditya Kala Plenthong.

Cakil digambarkan berbeda dengan raksasa lain yang hanya satu tangannya bisa digerakkan. Tangan Cakil bisa digerakkan kedua-duanya. Hal ini diartikan sebagai penggambaran “sengkalan memet”: “tangan yaksa satataning janma” yang kurang lebih berarti tangan raksasa layaknya tangan manusia. Kata-kata tersebut mengandung watak bilangan sebagai berikut, tangan:2, yaksa:5, satataning:5, jalma:1. Jika dibaca terbalik maka akan menghasilkan angka Tahun Jawa 1552, atau 1630 Masehi yang merupakan tahun diciptakannya tokoh Cakil.

Dalam pewayangan, Cakil bersuara kecil, melengking dengan gaya bicaranya cepat. Meski yang diajak berbicara berhadap-hadapan tapi ia seperti bicara dengan orang di kejauhan. Cakil dalam pewayangan merupakan tokoh raksasa yang bertugas sebagai penjaga batas wilayah suatu negara. Jika ada satria (paling sering Arjuna atau Abimanyu) yang melewati daerah tersebut dihadang sehingga kadang terjadi peperangan, yang disebut Perang Kembang. Oleh karena itu Cakil dalam pewayangan dimasukkan dalam kategori “Buta Begal”.

Ia umumnya ditemani oleh tiga raksasa yang berwarna tiga macam. Hal ini terkadang dihubungkan dengan simbolisasi nafsu-nafsu manusia, yakni nafsu amarah, aluamah, supiah, dan mutmainah. Cakil digambarkan sebagai raksasa yang lincah, mahir pencak, dengan gaya berkelahi yang diselingi tarian yang khas. Yang jelas dalam perang ia selalu mati terkena keris pusakanya sendiri. Cakil juga bisa diartikan sebagai tokoh yang gigih, dan setia pada tugas sampai titik darah penghabisan.

Tokoh Cakil dalam wayang gagrag (gaya) Yogyakarta, digambarkan dengan posisi muka langak, bermata kiyeran, dengan hidung wungkal gerang, mulut mrenges dengan kumis, jenggot, dan cambang lebat. Ia memakai sumping sorengpati, dengan jamang sadasaler, rambut odholan (terurai). Badannya gagahan dengan kalung wastra (kalung punggawa), posisi kaki pocong blothong, memakai gelang bala, dan binggel sebagai gelang kakinya.

Berikut contoh dialog yang terjadi antara Cakil dan satria yang dihadangnya.

Cakil: “E ladalah, sasuwene aku pacak baris ing alas iki, ana satria bagus, baguse uleng-ulengan, dedege ngringin sungsang, lakune njungkar angin. Ayo ngakua, ngakua, ngaku! Sapa jenengmu, endi omahmu, endi omahmu, sapa jenengmu?”

Satria: “Buta, buta pantes temen sesipatanmu, dene takon tanpa parikrama, ucapmu cariwis, tanganmu surawean kaya wong ngegusah.”

Cakil: “E.. Babo, ladak lirih satria iki!”

Saria: “Apa abamu! Buta, sapa pracekamu lan ing ngendi dhangkamu.”

Cakil: “E… Ditakoni durung sumaur malah genti takon”

Satria:”Jamak lumrah wong tetakon ganti pitakon”

Cakil: “Iya, yen kowe takon marang aku, aku andeling praja Girikadasar, Tumenggung Ditya Klanthangmimis, balik kowe sapa jenengmu lan ngendi pinangkamu?”

Satria: “Yen jeneng ora duwe, yen kekasih ndakwangsuli.”

Cakil: “Nyata ladak satria iki! sapa kekasihmu.”

Satria: “Ya iki satria ing Tanjunganom, Raden Angkawijaya kekasihku”

Cakil: “Sumedya marang endi lakumu?”

Satria: “Ngetut tindaking suku, nuruti kareping budi”

Cakil: “E..Ladalah! Yen kena ndak eman becik balia, aja mbacut, halaran alas iki lagi dadi sesengkerane gustiku, yen ana janma liwat kudu bali.”

Satria: “Aweh ya mbacut, ora aweh ya mbacut.”

Cakil: “E..Bojleng-bojleng belis laknat jeg-jegan! Apa wani marang aku?”

Satria: “Kang ndak wedeni apamu”

Cakil: “E, lah keparat. Kekejera kaya manuk branjangan, kopat kapita kay ula tapak angin, kena ndak saut, ndak sabetake, sida sumyur kwandhamu.”

Satria: “Mara dikepara ngarsa.”

ditulis oleh Feri Istanto dari berbagai sumber